Perencanaan
pendidikan dan pelatihan nasional harus diarahkan kepada pencapaian
tujuan dan visi normatif pembangunan nasional sebagaimana kekuatan
internal serta kecenderungan-kecenderungan global yang mempengaruhi arah
pembangunan nasional dalam PJP II, maka kita dapat merumuskan visi
strategis mengenai pembangunan nasional kita. Dalam rangka untuk
mewujudkan visi strategis pembangunan nasional, maka perencanaan
pendidikan dan pelatihan yang sejalan dengan itu perlu dirumuskan.
Perencanaan pendidikan dan pelatihan tersebut tidak lain yaitu suatu
proses perencanaan yang efektif dan efisien yang mengandung 3 unsur
pokok, yaitu : a) system, b) materi pembelajaran dan pelatihan, c)
proses pembelajaran dan pelatihan.
Dengan
proses perencanaan pendidikan dan pelatihan nasional yang demikian
bukanlah semata-mata pencapaian target kuantitatif tetapi juga bahkan
terlebih berkenan dengan pembenahan system agar supaya lebih efektif dan
efisien, meningkatkan mutu proses pembelajaran dan pelatihan, serta
materi yang disampaikan di dalam proses. Tersebut bukan hanya mempunyai
kualitas yang tinggi tetapi juga relevan dengan tuntutan pembangunan
nasional.
Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan yang Efektif
Rencana
yang efektif adalah rencana yang yang menunjang pencapaian tujuan PJP
II, khususnya tujuan strategis PJP II yang telah dijadwalkan pada
periode Repelita. Seperti yang dirumuskan, tujuan strategis dari
pembangunan PJP II yaitu : menyiapkan masyarakat industri maju. Suatu
masyarakat industri maju memiliki ciri-ciri yang khusus yaitu masyarakat
yang mengenal disiplin. Tanpa disiplin tidak mungkin industri maju yang
menggunakan unsur-unsur posisi tinggi berjalan tanpa disiplin. Disiplin
dalam pekerjaan, di dalam produksi dan di dalam kehidupan. Tidak ada
suatu negara industri maju tanpa kedisiplinan
warganya. Oleh karena itu, perencanaan pendidikan dan pelatihan haruslah
diarahkan kepada tumbuhnya suatu masyarakat yang berdisiplin.
Rencana
yang telah disepakati haruslah dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan,
menyampingkan tujuan-tujuan tambahan dan memfokuskan kepada rencana yang
telah ditentukan. Bukan berarti bahwa rencana yang telah disepakati
tidak dapat ditawar-tawar lagi. Penyesuaian suatu rencana hanya dapat
terjadi apabila kondisi meminta untuk perbaikan-perbaikan selama
pelaksanaan. Keterbatasan dana, ketidakmampuan pelaksana, kurang
koordinasi di lapangan dapat menyebabkan penyesuaian pelaksanaan.
Perencanaan
pendidikan dan pelatihan diarahkan pada pengembangan dan penguasaan
IPTEK serta penerapannya. Berikutnya keterampilan yang diprogramkan
adalah keterampilan yang dibutuhkan di dalam pasar kerja oleh dunia
industri atau oleh kesempatan-kesenmpatan yang muncul karena kemajuan
ilmu dan teknologi kemudian perencanaan yang disajikan merupakan suatu
rencana yang melahirkan inisiatif.
Demikianlah
proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif harus dapat
menumbuhkan suatu system pendidikan dan perencanaan yang
mengakomodasikan lahirnya kemampuan-kemampuan yang diperlukan oleh suatu
masyarakat industri. Sistemnya haruslah efektif, artinya tidak ada
duplikasi serta program tanpa arah. Seluruh sistem diberdayakan agar
secara cepat dan tepat menunjang pencapaian tujuan PJP II. Hal ini
berarti perencanaan Ppendidikan dan pelatihan haruslah komprehensif,
sebab sumber daya manusia yang aka n dibutuhkan oleh semua sector
pembangunan.
Selama
PJP II tujuan ini belum sepenuhnya dapat dilaksanakan sehingga terjadi
berbagai pemborosan dan bermuara kepada angka pengangguran yang semakin
besar. Pengangguran menandakan bukan hanya oleh
factor-faktor ekonomi, melainkan juga sebagai variable ketidakefektifan
proses perencanaan pendidikan dan pelatihan dalam membangun suatu system
yang efektif.
Suatu proses perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif juga berkenaan dengan proses pembelajaran. Era informasi dengan cyber learning akan mengubah seluruh proses belajar baik di dalam system pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Oleh karena itu, cyber learning harus direncanakan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin dalam rencana pendidikan dan pelatihan masa depan.
Perencanaan Pendidikan dan Pelatihan yang Efisien
Efisien
artinya penggunaan sumber-sumber secara tepat guna dalam rangka
pencapaian suatu tujuan. Dalam hubungan ini, proses perencanaan yang
efisien adalah proses perencanaan yang mempunyai karakteristik, antara
lain : efisiensi berimplikasi tanpa duplikasi berarti intensifikasi.
Tetapi apabila duplikasi tanpa kerjasama, maka hal itu dapat dikatakan
pemborosan.
Dengan
demikian proses perencanaan pendidikan dan pelatihan akan dangkal
sifatnya atau akan melenceng dari tujuan nasional karena tidak
memperhitungkan kepentingan sector-sektor lainnya. Oleh sebab itu,
kerjasama intern, instansi antar lembaga, antar departemen di dalam
proses perencanaan pendidikan dan pelatihan merupakan syarat mutlak.
Proses kerjasama ini sudah dapat diperlancar dengan adanya teknologi
komunikasi yang canggih. Maka dari itu, dapat
dirumuskan secara lebih efisien serta lebih tepat dan cepat
program-program nasional yang mempunyai dimensi antar sektoral.
Keseimbangan antara Pendidikan dan Program Pelatihan
Kita
telah merencanakan program pendidikan terpisah dari program pelatihan.
Namun di dalam era informasi di mana pendidikan merupakan pendidikan
seumur hidup, maka porsi umur yang diperuntukkan bagi program pendidikan
sekolah ialah singkat dibandingkan dengan porsi umur yang diberikan
kepada program pelatihan yang berjalan seumur hidup. Apabila
karakteristik pekerjaan masa depan yang dinamis akan memberikan
relevansi yang tinggi terhadap program pelatihan. Oleh karena itu, di
dalam proses pendidikan dan pelatihan masa depan yang efisien harus
lebih memperhatikan kepada pengembangan program pelatihan nasional.
Tenaga-tenaga Perencana yang professional
Perencanaan
pendidikan dan pelatihan masa depan yang efektif dan efisien tentunya
meminta tenaga-tenaga yang professional tersebut, yaitu para perencana
harus merupakan suatu tim multi-disipliner. Dan mereka bukan hanya
ahli-ahli dalam bidang pendidikan dan pelatihan melainkan juga dari
disiplin-disiplin dari luar pendidikan, seperti teknik, ekonomi,
antropologi, filsafat, dan bidang-bidang lainnya yang relevan. Tentunya
yang ideal adalah adalah ahli-ahli pendidikan yang menguasai
disiplin-disiplin lainnya.
Dalam transformasi IKIP menjadi Universitas, maka tenaga-tenaga perencana yang professional akan lebih terbuka. Para
akademisi dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan akan dapat didik
sebagai tenaga-tenaga perencana pendidikan dan pelatihan yang lebih
mantap dan professional. Tim perencana yang multi-disipliner, yang
menghayati masalah-masalah pendidikan, akan dapat menghayati dan
membangun suatu system pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan
tujuan strategis dan misi strategis pembangunan serta dapat
mengembangkan materi yang akan disampaikan di dalam proses pembelajaran
dan pelatihan, serta menguasai tehnik proses pembelajaran itu sendiri.
Proses
perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efektif dan efisien secara
mutlak harus ditopang oleh peneliti (riset). Riset yang dibutuhkan
adalah dalam dua bidang, yaitu bidang kebijakan dan dalam bidang intern
pendidikan. Pelaksanaan riset kebijakan pendidikan dapat dilaksanakan
oleh badan pemerintah tetapi juga oleh lembaga-lembaga swasta yang
independent agar supaya dapat dirumuskan kebijakan-kebijakan dari
berbagai arah serta tidak berpihak.
Demikian
juga pelaksanaan riset mengenai masalah-masalah pendidikan an sich
perlu dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di
lingkungan universitas dan lembaga-lembaga riset masyarakat mengenai
mengenai pendidikan. Dewasa ini dirasakan suatu kelemahan di dalam
pengembangan pendidikan dan pelatihan nasional karena ketiadaan data
riset mengenai masalah-masalah pendidikan san pelatihan yang dibutuhkan
oleh masyarakat Indonesia sendiri yang sedang berkembang me nuju masyarakat industri.
Dari
berbagai konsep pendidikan dan pelatihan berasal dari pinjaman atau
limpahan pemikiran-pemikiran barat mengenai perkembangan yang sebenarnya
dari Indonesia sampai dewasa di dalam lingkungan kebudayaan Indonesia.
Kurikulum Nasional yang Ramping
Perencanaan
yang efisien dalam sector pendidikan dan pelatihan juga diarahkan
kepada terwujudnya suatu kurikulum yang ramping. Kita mengetahui bahwa
dewasa ini, kurikulum sudah sangat berat dengan pengetahuan yang kurang
relevan dengan kehidupan nyata. Era reformasi bukan berarti menghafal
dan penguasai semua informasi dan data yang ada, tetapi bagaimana
mengelola informasi yang ada agar supaya bermanfaat bagi kehidupan.
Dengan
demikian perencanaan pendidikan dan pelatihan yang efisien menuntut
lebih banyak pemanfaatan pendidikan umum sebagaimana diproyeksikan oleh
Negara-negara Uni Eropa dewasa ini. Oleh karena itu, apabila dewasa ini
kita mengenal Kurikulum Nasional dan Kurikulum Lokal di mana seolah-olah
yang penting adalah Kurikulum, maka dalam menjalani abad 21 justru yang
penting adalah Kurikulum Lokal yang merupakan kurikulum Kurikulum Inti.
Sedangkan Kurikulum Nasional merupakan lapisan plasma dari kurikulum
itu sendiri. Tentunya Kurikulum Lokal yang merupakan inti memerlukan
persiapan yang berat dan matang di daerah-daerah

5 komentar:
artikelnya bermanfaat
Nice
mantap bang
Good jobb
bagus artikelnya
Posting Komentar